Footprints of a Different Kind: We’re featured in CHIC magazine!

We know that we have left footprints during our many muddy, dusty walks, but we never thought that it’ll extend to the press! Such a lovely surprise, CHIC magazine picked our travelogue to be featured in the ‘blog review’ of its January edition. The article summed up our stories nicely and we’re especially touched by its acknowledgment of our time apart and the reunions that followed – the meta-story of The Dusty Sneakers. Thank you, CHIC, and thank you, Precilia Merisa, for appreciating and enjoying our accounts!

Jakarta, 16 January 2012

Gypsytoes and Twosocks

One Fine December in Northern Vietnam (Interview with Gypsytoes)

“I think this is the closest I’ve ever been to paradise,”  kata Gypsytoes.  Pagi itu kami sedang melamun di atas dek kapal di Halong Bay.  Saya rasa ia tak berlebihan. Barisan bukit batu nan cantik yang menyembul di atas perairan, suara ombak dan angin yang tenang, burung elang yang sesekali terbang rendah, membuat kami berpikir mungkin seperti inilah pemandangan di salah satu sudut nirwana.  Sambil berselonjor bertelanjang kaki kami melamun, tak henti mengagumi alam, dan mengingat betapa perjalanan delapan hari di Vietnam ini sungguh sangat menyenangkan. Berjalan menembus perbukitan Sapa (ya! Gypsytoes melakukan pendakian kecil-kecilan!), melihat suku H’Mong dengan pakaiannya yang cantik, minum wine hangat di tengah musim dingin yang berkabut, berbicara dengan sesama pejalan, melihat sejarah pergolakan Vietnam, minum teh di pinggiran jalan Hanoi, tidur di kereta malam, tidur di atas dek kapal, menyanyi gila-gilaan sambil minum Bia Hoi bersama sesama pejalan di atas dek kapal, dan banyak lagi. Kami selalu menyukai bulan Desember, dan perjalanan ke Vietnam membuat kami semakin jatuh cinta pada bulan yang sejuk ini.

Hari ini adalah hari Natal. Sehari setelah kami kembali ke Jakarta. Bersama Gypsytoes saya duduk di Canteen, minum teh,  mendengar lagu-lagu natal yang hangat, dan menulis. Ini siang yang tenang di Jakarta, Gypsytoes tampak sedikit mengantuk dengan wajah bahagia. Campuran sedikit cocktail Natal di siang hari, lagu yang mendayu, dan sedikit letih dari perjalanan yang menyenangkan. Saya memutuskan untuk membangunkannya dan mengajaknya terlibat dalam tulisan ini. Jadi saya mulai mewawancarainya,

Twosocks (T): Apa menurut kamu bagian terbaik dari perjalanan di Vietnam?

Gypsytoes (G): Pengalaman terbaik saya ada di Halong Bay. Saat menginap di kapal tongkang kayu dan berlayar di perairan yang hijau dan tenang. Rasanya menyenangkan sekali menembus kabut dan melihat bukit-bukit tinggi itu.  Apalagi sering ada burung elang terbang ke sana-sini. Rasanya seperti di film Return of the Condor Heroes (Gysytoes mulai menyanyikan lagu film itu – mungkin pengaruh cocktail). Dan satu lagi, saya menemukan keahlian baru, kayaking! (sekedar catatan, ia tidak benar-benar mendayung, ia hanya menggerakkan sampannya ke sana kemari, sementara saya melakukan pekerjaan sesungguhnya)

T: Kita bertemu orang-orang yang cukup menyenangkan di sana. Bisa di ceritakan?

G: Kawan perjalanan yang menarik selalu menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Pertama kami bertemu pasangan Amerika yang menjadi guru SMA di Korea Selatan, Thomas dan Joanna. Mereka pasangan yang ramah, kami ngobrol kesana kemari termasuk soal budaya K-Pop yang mempengaruhi anak-anak muda Korea untuk melakukan operasi plastik. Mereka juga bercerita bagaimana nenek-nenek adalah sosok yang sakral sekali di Korea. Tapi yang lebih menyenangkan lagi adalah pasangan Norwegia keturunan Iran yang kami temui di Sapa, Naseer dan Fereshta. 20 tahun lalu mereka adalah pengungsi politik Iran yang memulai hidup dari nol di Norwegia. Dan sekarang di usia lima puluhannya, mereka rutin berjalan-jalan ke penjuru-penjuru dunia.  Mulai dari perjalanan ke Cina yang murah meriah sampai  indahnya alam di Ekuador. Naseer juga seorang penggemar filosofi yang fanatik dan pengamat politik yang tajam.  Ia bercerita tentang Foucault, Rumi, dan Rushdie.  Ia juga cukup mengikuti sejarah Indonesia dan berpendapat demokrasi yang buruk selamanya akan lebih baik dari autoritarianisme.

T: Kita sempat ke dataran tinggi Sapa, komentar kamu?

G: Di Sapa, untuk pertama kalinya kami mengalami a true Asian winter. Suhunya 2-5 derajat. Dingin sekali dan berkabut. Di sana kami menemukan gluh wein (wine hangat). Enak sekali! Kami melakukan trekking menembus bukit-bukit menuju desa Lao Cai tempat suku H’Mong tinggal. Karena sedang musim dingin, pemandangan memang kurang maksimal. Padi-padi menguning yang seharusnya menjadi pemandangan terindahnya sedang tidak muncul. Perempuan-perempuan H’mong dengan pakaiannya yang begitu cantik menemani kami berjalan. Di akhir perjalanan kami memang harus membeli suvenir-suvenir dari mereka, tapi tidak apa-apa, mereka sudah menemani berjalan begitu jauh dan menolong saya melalui turunan-turunan curam.

T: Di antara sapa dan Halong Bay kita sempat menghabiskan waktu berputar-putar di Hanoi. Apa bagian yang paling berkesan untuk kamu?

Melihat orang berfoto pre-wedding di mana-mana, hahaha…  Di danau Hoa Kiem, di Temple of Literature, Museum of Ethnography, di pinggiran jalan saat kita sedang minum teh… Beberapa pasangan masih malu-malu, beberapa tampak rileks.  Tapi yang sangat berkesan adalah saat secara tidak sengaja kami menemukan Museum of Women yang sangat menakjubkan, tepatnya di lantai tiga. Di beberapa tempat perempuan sering ditonjolkan sebagai penyandang budaya semata. Yang dikedepankan adalah baju tradisionalnya, peran-peran adat, dan sejenisnya. Tapi lantai tiga museum itu didedikasikan untuk perempuan Vietnam dalam masa-masa pergolakan. Disana ditampilkan wajah-wajah perempuan yang mengangkat senjata membela kehormatan bangsanya. Bukan hanya para pemimpin gerilya yang diakui, ditampilkan pula wajah-wajah tanpa nama mereka yang maju ke depan berperang, menanam bom, atau membajak sawah sambil menyandang bedil dan banyak lagi. Juga tampak wajah para ibu yang kehilangan anaknya, perempuan yang menjadi suster di garis depan, dan banyak lagi. Ini agak berlawanan dengan di Indonesia dimana pejuang perempuannya sangat minim pengakuan. Yang dikedepankan sering terbatas pada kalangan ningrat seperti Kartini, Cut Nya Dien dll, sementara masih begitu banyak perempuan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk kehormatan Indonesia. Beberapa malah perannya sangat direduksi. Gerwani misalnya, mereka  yang sebenarnya pejuang persamaan hak perempuan malah dicap komunis, perempuan-perempuan tak bermoral dan sejenisnya.

T: Menarik sekali Gypsytoes! Selain hal-hal menyenangkan, apa yang kurang menyenangkan dari Vietnam?

Ini adalah delapan hari yang ajaib, semuanya menyenangkan dan bahkan untuk perjalan yang begitu intense, kita tidak sekalipun berselisih pendapat atau bersitegang. Kalau ada yang kurang menyenangkan itu adalah saat ditipu pengendara cyclo (becak). Kita diturunkan 20 menit dari tempat tujuan. Kita selalu suka berjalan kaki, tapi perasaan yang muncul akibat terkena tipu itu sangatlah menyebalkan. Apalagi jalanan Hanoi Old Quarter di jam-jam sibuk  sungguh kacau dalam arti sesungguhnya.  Empat juta motor di Hanoi seperti tumpah di tempat yang sama, dalam jam yang sama, tanpa mempedulikan lampu penanda jalan, dan tanpa polisi! Pejalan kakinya juga sama saja, bisa berhenti seenaknya di tengah jalan untuk foto-foto. Saya pikir saya veteran pejalan kaki, namun saya bisa diam gemetaran di tepi trotoar di Hanoi.

Hari terakhir di Vietnam kami habiskan dengan berjalan ke Hoa Lu, ibu kota tua Vietnam dan mendayung perahu kecil menyusuri sungai yang tenang di Tam Coc. Bersama tukang perahu kami menyanyikan lagu pujian terhadap Ho Chi Minh, bapak negara yang masih begitu dicintai. Perjalanan diakhiri dengan menaiki sepeda di pedesaan Tam Coc. Di jalanan yang lenggang dengan pemandangan bukit yang indah kami bersepeda dan berteriak-teriak menggila, “Wooohhoooooo!!!”

Dan hari ini kami di sini, di Jakarta, kembali tersenyum-senyum mengenang perjalanan Vietnam. Sayup masih terdengar lagu-lagu Natal yang mendayu. Have Yourself a Merry Little Christmas. Saatnya bersulang untuk hari yang menyenangkan. Ah, bulan Desember selalu adalah bulan yang manis. Selamat Natal kawan-kawan. Dan selamat tahun baru! Semoga hal-hal masih selalu menyenangkan!

Desember 2011, Twosocks (dan Gypsytoes)

Yogyakartralala

Hubungan saya dengan Yogyakarta bisa dikatakan memiliki masa naik dan turunnya. Pertemuan awal dengannya terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu. Saat itu saya adalah anak ingusan yang berjongkok kagum di emperan Malioboro melihat seorang pelukis jalanan yang sedang membuat sketsa wajah ayah saya. Itu adalah pertama kalinya saya melihat langsung pelukis wajah. Lirak lirik, goras gores, jadi! Hebat sekali. Walaupun tidak bisa dikatakan mirip, saya tetap takjub luar biasa. Buktinya, hingga sekarang wajah ajik yang terlalu kurus dan sedikit miring di sana sini itu masih terbingkai rapi di rumah saya di Bali. Itu juga masa awal saya mendengarkan beberapa kisah kerajaan selain kisah dunia pewayangan yang memenuhi masa-masa kecil dahulu. Walaupun agak samar, saya teringat itulah pertama kali saya mendengar dari ajik cerita bagaimana kesultanan Yogyakarta menjadi bagian penting dari berdirinya republik ini. Di sana saya menjadi bagian dari barisan yang memandang takjub sekaligus terharu kepada pria-pria tua yang menjadi pasukan kerajaan keraton. Saya teringat bagaimana kawan saya Najib menyebut mereka, soldiers of past glories. Sebutan yang penuh cerita.

Kekaguman atas kebersahajaan kota ini sedikit terganggu dalam sebuah kunjungan di awal masa kuliah saya. Saat itu saya menghabiskan malam dengan duduk di angkringan bersama beberapa aktivis dan pemain teater mahasiswa Yogyakarta. Diperkenalkan sebagai mahasiswa dari Jakarta ternyata tidak membuat malam saya menjadi begitu nyaman. Beberapa dari mereka mulai berbicara kepada saya dengan logat betawi yang dibuat-buat dan dalam nada yang sedikit merendahkan. Setiap saat mereka seolah berusaha menyampaikan bahwa mahasiswa Jakarta adalah mereka yang sok kota dan mengadu pada orang tua saat kesulitan hidup datang. Bahkan sampai beberapa saat kemudian ketika mereka mendengar logat Bali saya yang masih sangat kental. Mahasiswa Yogyakarta dikenal sebagai mahasiswa yang pintar namun sederhana, tidak mengutamakan penampilan luar, dan sangat merakyat. Namun saat itu untuk pertama kalinya  saya menemukan bahwa untuk beberapa orang kesederhanaan adalah identitas yang juga merupakan strata sosial. Terkadang menjadi sederhana dan menggembel ternyata bisa merupakan label yang memberikan legitimasi untuk merendahkan orang lain. Malam itu tidaklah terlalu menyenangkan.

Namun di atas semuanya, Yogyakarta selalu adalah salah satu kota dengan sejarah tradisi yang begitu kuat yang menciptakan wibawa di setiap sudutnya. Berjalanlah di sepanjang jalan-jalan utamanya, perhatikan bangunannya, dengarkan kisah-kisahnya, bicara dengan orang-orangnya, maka tak mungkin kita tak menaruh hormat padanya. Dengarkan kisah serangan umum 1 Maret, duduklah di sekitar benteng Vredeburg, dengarkanlah lagu-lagu campur sari pengamennya. Kota Yogyakarta juga selalu dipenuhi mahasiswa. Pemuda-pemuda dengan mimpi dan kebebasan tak terbatas. Selalu menyenangkan melihat mereka duduk di sana sini, di ruang-ruang terbuka kotanya, berbicara, berdiskusi, berpacaran, membaca, tergelak. Ini membuat Yogyakarta menjadi kota yang juga romantis.

Minggu lalu saya pun menikmati romantisme pertemanan di kota ini. Tanpa direncanakan saya berada di kota yang sama dengan dua sahabat lama saya, Bram dan Arip. Dan kami pun memutuskan menghabiskan malam bersama-sama, berjalan kesana kemari, berbicara-bicara. Bercerita tentang banyak hal, masa lalu, petualangan Bram, keresahan Arip, hal-hal bermakna ataupun remeh temeh. Makan gudeg, minum ronde, makan jagung rebus. Saya bercerita tentang para peternak kambing di Magelang yang saya temui siang hari sebelumnya. Bram bercerita tentang hal-hal yang dihadapi yayasan anak wayang, LSM nya di Belanda sana. Lalu Arip yang mengajak kami mengenang masa-masa awal kami berteman belasan tahun lalu. Masa-masa yang penuh tenaga. Kami berbicara, berjalan, dan sesekali berhenti untuk minum teh atau ronde dan mendengarkan para pengamen yang menciptakan suasana Yogyakarta yang begitu khas. Tembang pun tak henti mengalir, mulai dari lagu-lagu campur sari yang lucu, lagu-lagu tua John Denver, sampai lagu sepanjang masa saya, Fly me to the moon. Ada kendang, ada ukulele. Ada pengamen tua, ada pengamen muda. Rangkaian kesenian diakhiri oleh Arip yang bergabung bersama para pengamen di alun-alun dan ikut menyanyi gila-gilaan.

Bersama waktu, kami adalah anak-anak yang mulai tumbuh dewasa dan berumur. Perlahan kami mulai berjalan sendiri-sendiri dalam hidup masing-masing. Bahkan untuk Bram, ia memulainya jauh sebelum kami. Karena itulah, bertemu kembali di saat yang tidak terduga di tempat yang bersahaja seperti Yogyakarta sungguh sebuah momen yang berharga. Dan saya yakin, malam itu di depan benteng Vredeburg, bukan hanya kami yang menempatkannya sebagai saat yang khusus. Kami sempat berkenalan dengan pasangan yang sedang menghabiskan malam terakhir pertemuan mereka di Yogyakarta. Sang perempuan kuliah di Yogya sementara sang pria akan berangkat keesokan paginya untuk bertugas di Lampung. Mereka memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir mereka dengan duduk-duduk di jalanan depan benteng tua itu.  Keesokan paginya, saat sang pria berjalan ke terminal, atau saat sang perempuan berjalan ke kampus, mereka pasti terkenang akan malam terakhirnya dan tersenyum-senyum sendiri. Di ujung perempatan, kami juga melihat sekumpulan mahasiswa yang sedang berkumpul dan tergelak-gelak bersama. Atau beberapa anak berdandan punk yang bercanda satu sama lain. Sungguh bebas dan bahagia. Bertahun tahun dari sekarang, tentu mereka akan mengenang malam-malam seperti ini dan menjadi melankolis. Malam yang bahagia.

Dan kami masih berjalan, melihat-lihat, berbicara-bicara, sampai akhirnya tak tahan oleh kantuk dan jatuh tertidur. Bagaikan babi besar, Arip tidur membabi buta. Bram yang malang, ia tak berdaya meringkuk di pojokan. Pemandangan langka yang membahagiakan. Sebenarnya saat itu belum terlalu pagi di Yogyakarta, mungkin baru pukul 2 dini hari. Tukang ronde masih berjaga, pemuda-pemuda masih bercanda, kehidupan masih berjalan. Ah sudahlah, sudah saya katakan tadi, perlahan kami mulai tua.

Twosocks, Oktober 2011

Wajah Indonesia yang Murung Sebelah

Indonesia adalah rumah dari mereka yang gemar tertawa riang terbahak-bahak. Rumah untuk mereka yang bernyanyi tanpa lelah. Tanah dengan sejuta budaya dan alam nan eksotis. Tak pernah surut keinginan saya untuk menjelajah karena kejutan yang tak henti diberikannya. Namun dalam perjalanan delapan jam melintasi Sampit dari Palangkaraya menuju Kuala Pembuang, ada sebuah wajah lain yang melintas. Tanah yang saya cintai ini juga adalah tanah dengan sejarah kekerasan yang panjang. Diantara sungainya yang elok, Indonesia juga  bertutur tentang kisah-kisah kebengisan yang menyedihkan. Diantara hutannya yang rimbun, tersembul sejarah panjang kekerasan politik, agama, hingga etnis. Mulai dari gambar suram tahun 60an saat ratusan ribu orang dibunuh karena tanpa sadar memiliki label komunis di dadanya, api yang menyala-nyala dari konflik agama di Ambon, jamaah Ahmadiyah yang dibantai dengan keji di Cikeusik, pemerkosaan atas etnis Tionghoa saat kerusuhan Jakarta, dan deret panjang kebengisan yang secara tidak terduga muncul dari orang-orang yang sehari-harinya begitu santun.

Melalui tutur Pak Jaka, pria Dayak Katingan yang menemani saya dalam perjalanan delapan Jam di Kalimantan Tengah ini, cerita kekerasan Sampit sepuluh tahun lalu kembali terbayang.  Pak Jaka yang sejak kecil tinggal di Sampit menceritakan kisah-kisah kekejaman tragedi Sampit yang langsung ia saksikan. Mungkin karena telah terlalu sering menuturkannya, ia bercerita seolah dengan tanpa beban. Namun kengerian yang diciptakannya sungguh tak terhingga. Sebuah puncak dari kekerasan antar etnis yang terjadi sejak berpuluh tahun sebelumnya. Kepala-kepala yang terpenggal, anak kecil yang tertusuk tombak, perut yang terburai, rumah yang dibakar. Kisah tentang sekelompok pria dayak berkuping panjang yang turun dari gunung dan keluar dari hutan untuk melakukan pembantaian paling biadab. Dengan mata merah kesurupan, mereka tidak berkata banyak. Bergerak taktis hanya dengan satu tujuan, membunuh etnis lawan. Banyak yang bahkan memakan hati korbannya mentah-mentah. Berbekal ilmu gaib yang diberikan sebelum turun bertempur, mereka melakukan tindakan jauh di luar kemanusiaan. Konon banyak diantara mereka yang menjadi gila setelah konflik mereda. Terguncang setelah menyadari kekejian yang dilakukannya sendiri. Tergetar oleh lumuran darah di sekujur tubuhnya. Saat kami melintas sungai Mentaya, pak Jaka  mengisahkan dahulu sungai itu dipenuhi mayat yang bagaikan rakit mengalir dari hulu di tengah hutan. Begitu banyak kisah biadab yang diceritakan. Termasuk kisah memalukan saat aparat keamanan berkelahi satu sama lain untuk berebut melindungi pengungsi Madura di pelabuhan demi setoran uang perlindungan. Dan sederet kisah sedih lainnya dalam perjalanan menembus malam.

Kisah-kisah yang membuat saya termenung-menung sepanjang jalan. Sungguh Indonesia adalah tanah yang luas. Sebuah berkah yang terkadang berujung pada hilangnya kepekaan. Hilangnya rasa keterikatan. Sebuah kejadian yang begitu menyedihkan yang terjadi di satu bagian sering tidak cukup mengusik naluri kemanusiaan mereka yang ada di wilayah lainnya. Saat saudara-saudara Ahmadiyah dibantai dengan kejam di Cikeusik, beberapa anggota DPRD memilih untuk berkeras mendapat mobil dinas baru. Saat korban lumpur Lapindo masih terlunta tak mendapat dana kompensasi lima tahun setelah musibah yang menimpanya, banyak yang memandang kagum pernikahan mewah putri dari orang yang paling bertanggung jawab akannya. Saat begitu banyak orang terusir dari tanahnya di NTB karena kepercayaan yang mereka anut, tak banyak yang benar-benar mencari informasi bagaimana perkembangan mereka hingga kini. Di masyarakat luas di bagian lain Indonesia, mereka sering hanya menjadi pembicaraan sambil lalu. Diantara kopi hangat, creambath yang menenangkan, atau benar-benar pupus diantara lampu klab malam. Dahulu saat konflik Sampit meletus, saya mungkin sedang duduk-duduk di sebuah warung Indomie di sudut Bintaro dan berbicara tentang hal-hal remeh. Indonesia yang indah yang saya cintai ini, juga selalu memberikan wajah-wajahnya yang suram. Anak yang meringis kehilangan masa kanak-kanaknya, ibu-ibu yang kalap dalam putus asa karena hartanya yang disita paksa, wajah-wajah bengis pria yang datang menerjang. Mungkin jika kita setidaknya aktif mencari tahu dan mengikuti perkembangan hal-hal yang mengusik kemanusiaan di sekitar, paling tidak akan terbangun kepekaan yang kemudian berpengaruh terhadap pilihan-pilihan tindakan yang kita ambil sehari-hari. Terkadang pilihan-pilihan yang sungguh sederhana. Seperti kata seorang rekan pekerja pembangunan yang suatu hari memutuskan untuk tinggal di kantor lebih lama,”Tak apa-apalah bekerja lebih lama, hal-hal sedang tidak terlalu baik untuk Indonesia.”

Kami meluncur terus menembus malam dan jalan yang bergelombang. Melewati Sampit, menuju Kuala Pembuang. Saat ini, sepuluh tahun setelah konflik berdarah itu,  Sampit sudah aman dan perlahan mengubur segala kenangan kelamnya. Senyum sudah muncul di wajah-wajah yang saya temui. Warung kopi sudah dipenuhi gelak tawa. Anak-anak berlari bertelanjang dada dan terkikik-kikik. Namun ada satu yang tak berani saya tanyakan pada Pak Jaka di sepanjang perjalanan kami, saat konflik antar etnis yang melanda kampungnya dulu, apakah ia benar-benar hanya menyaksikan?

Twosocks, Mei 2011

A Bit of Luxury for the Homeless of Ubud

Pada sebuah masa yang tidak terduga, seseorang akan berjalan dengan alur yang jauh di luar rencana yang telah disusun atau dengan gaya yang sama sekali berbeda dari kebiasaannya. Backpacker yang akhirnya ikut dalam rombongan tur dengan jadwal yang tertata rapi, mereka yang untuk pertama kali harus terhimpit di kereta malam antar kota yang pengap, atau pendaki gunung yang menikmati matahari terbenam sambil minum segelas anggur di atas yacht. Kebanyakan perjalanan saya dilalui dengan celana yang jarang diganti, tidur di tempat yang sederhana, dan buang air di sembarang tempat. Kombinasi sifat yang bersahaja dengan pelit, sok proletar, serampangan dan sejumlah sifat tercela lainnya.

Namun hal-hal sedikit berbeda dalam perjalanan ke Ubud beberapa waktu yang lalu. Saya dan Gypsytoes begitu bersemangat untuk menghabiskan akhir pekan di ubud  dengan segudang rencana; trekking ke hutan dan desa-desa di pagi hari, melihat pentas calonarang di malam hari, mengagumi karya-karya lukis, berjalan ke sana kemari, berbicara dengan semua orang, dan melihat-lihat. Namun saat berjalan di daerah nyuh kuning keputusan impulsive membawa kami untuk berbelok masuk ke sebuah villa yang tampak begitu sejuk. Kami tahu harganya jauh diatas anggaran penginapan kami namun tidak ada salahnya sedikit bergaya. Kami berpura-pura menanyakan harga untuk sekedar melihat-lihat dan mengagumi arsitekturnya.  Sales managernya yang santun membawa kami melihat semua villa di sana, villa-villa dengan pemandangan sawah yang sejuk, teras dan balai-balai yang ramah, tata lampu yang lembut, suara angklung sayup-sayup, dan infinty pool yang begitu menggoda. Bahkan di unit terbaiknya, terdapat bath tub di tempat tebuka yang dipenuhi bunga, in door dan out door shower, out door kitchen, dua balai-balai empuk di pinggir private pool nya yang sangat menggoda untuk sekedar leyeh-leyeh membaca. Dan di atas semuanya, arsitektur yang di dominasi kayu membuat semuanya terasa begitu sejuk.  Setelah cukup bergaya melihat-lihat dan hendak pamit pulang, sang sales manager mengatakan sesuatu yang membuat kepala kami berkunang dan lidah kami terjulur-julur. Karena saat itu sedang low season, ia menawarkan villa terbaik mereka spesial untuk kami dengan sewa permalam hanya sepertiga harga atau sama dengan harga villa termurahnya. Waduh. Kami bertatapan dan menyimpulkan betapa ini adalah tawaran yang menggoda. Namun betapapun kami menginginkannya, harganya tetap di atas anggaran menginap kami bahkan sama dengan seluruh anggaran liburan kali ini. Dengan setengah mati mencoba mengontrol gejolak emosi oleh godaan maha besar ini, kami mengatakan hendak makan siang di luar dulu dan akan mengkonfirmasinya kemudian. Dan kami pun berlalu, tidak menoleh ke belakang, mencoba mengenyahkan godaan duniawi itu. We are bums, that is who we are, and that is what we do!

Siang itu kami makan Bebek Bengil, salah satu makanan yang bersama sambal matahnya saya tempatkan sebagai makanan terenak di dunia. Namun saya temukan diri saya hanya makan seadanya. Di ujung meja Gypsytoes juga tampak melamun. Ia adalah salah satu anak terbawel di dunia, namun siang itu ia hanya memandangi sawah-sawah. Pikirannya tampak menerawang. Kami adalah dua orang yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tapi sepanjang makan siang kami hanya bicara seadanya. Hening. Sampai kemudian kami menyimpulkan bahwa pikiran kami telah diracuni oleh godaan untuk menghabiskan malam di villa tadi. Godaan untuk sekali-kali dalam hidup kami yang menggembel ini merasakan sedikit kemewahan. Tiba-tiba pentas calonarang, galeri-galeri lukisan, perjalanan ke tengah hutan terasa tidak semenarik nikmatnya kemanjaan di villa tadi. Setelah hampir setengah jam termenung-menung dan memainkan tulang bebek, kami tertawa terkikik-kikik dan berkata, “f*ck it!! We’ll spend the night there!!” Jadi itulah yang kami lakukan.  Karena anggaran liburan akan tersedot ke tempat menginap dan kami hanya akan memiliki 24 jam maka segala yang lain harus dilupakan. Lupakan menghabiskan waktu di galeri atau di jalanan sawah, lupakan makan malam enak.  Kita akan menumpuk perbekalan dan mengurung diri di villa. Maka backpack pun dipenuhi dengan makanan murah cukup unuk semalaman dan kami berangkat. Kepada sang sales manager kami berkata  dengan suara paling elegan yang kami miliki: “We’re  taking it”.

Dan disanalah kami menghabiskan malam, duduk melihat sawah sambil membaca, berenang,  berbicara tak henti sambil minum teh beras, termenung dengan musik angklung yang terdengar sayup, tidur di ranjang bertirai yang luar biasa empuk. Saya, anak tak terurus yang suka berlibur ke tengah hutan ini, bahkan mandi dengan air bunga. Norak minta ampun. Malam harinya kami diberikan compliment berupa chocolate cake dengan tulisan ‘happy honeymoon’. Kami dikira pasangan yang sedang berbulan madu. Kami pun terkikik-kikik geli dan makan dengan lahap.

Seperti yang dulu pernah kami katakan, para pejalan sungguh tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label-label.  Terlebih lagi dalam hirarki-hirarki. Satu dan lain waktu kita akan berada pada’kotak-kotak’ yang lain itu. Alur liburan dapat begitu berubah hanya dari keputusan untuk berbelok di sebuah tempat di jalan nyuh kuning. Apalagi, bukankah kita berjalan karena kejutan-kejutan yang tak henti ditawarkannya?

 

Twosocks, April 2011

Wake Up You Lazy Bum!

Terkadang kita menemukan betapa kita ini pemalas dan membosankan. Hal-hal menakjubkan di sekitar tanpa sadar dilewatkan begitu saja. Banyak diantara kita yang menghabiskan berminggu-minggu di Aceh namun tak sekalipun menyeberang dan berenang di Sabang. Mereka yang menghabiskan masa remajanya di Malang namun terlalu malas untuk menembus hutan dan gila-gilaan di pulau Sempu.  Mereka yang bepergian ke Banjarmasin, namun tak kuasa bangun sedikit lebih pagi untuk minum teh di tengah pasar terapung atau mengganggu kera-kera di pulau Kembang. Saya pun tak terkecuali.  Saya baru terkagum-kagum melihat matahari terbit dari puncak gunung Batur setelah lebih dari satu dasa warsa saya meninggalkan pulau Bali. Setelah lama di Jakarta, tak sekalipun saya bermain ke kepulauan Seribu. Dan sampai sekarang saya belum pernah mampir dan menonton pertunjukkan di teater Salihara sejak ia pindah dari Utan Kayu. Kemana saja saya selama ini, ya? Bahkan  awal Januari lalu saya baru menyadari bahwa dari bagian timur Bali,  Padangbai tepatnya,  kita bisa langsung menyeberang ke pulau Gili Trawangan. Pulau yang membuat kita bersantai dalam arti sesungguhnya. Makan pancake, duduk membaca, bersepeda, lalu berenang, melihat laut, duduk membaca lagi, nonton DVD di pinggir laut, berenang lagi, makan pancake lagi. Sungguh terkadang saya adalah pemalas yang membosankan. Hari sabtu pagi sering saya tergoda untuk menghabiskannya hanya dengan menonton DVD di rumah, episode demi episode, tanpa mandi, dengan makanan pesan antar yang dimakan langsung dari bungkusnya agar tak usah mencuci piring. Kawan-kawan, ingatkan saya untuk menggantung diri saya jika saya melakukan hal tadi paling tidak tiga weekend berturut-turut. Serius.

Saya harus mengingatkan diri mengenai beberapa hal yang sering berhasil mencegah saya dari menjadi pemalas. Hal-hal yang membantu saya mengatakan persetan dengan semuanya dan terus berjalan. Mungkin ini juga berguna bagi kalian yang, seperti saya, mulai tua dan letih. Pertama, buatlah keputusan dan jangan biarkan hal-hal menggoyahkannya. Sedikit keras kepala dan tak tahu diri terkadang ada gunanya. Tangan saya terkilir akibat permainan basket dua hari sebelum saya dan Gypsytoes pergi ke Gili Trawangan. Saya memutuskan untuk tetap pergi dan kami mensyukuri keputusan itu. Pulau kecil itu menjadi salah satu tempat liburan terbaik yang pernah saya miliki. Pantai, buku, hammock, pancake, dan seterusnya. Dalam pendakian ke Merbabu tempo lalu, keraguan sempat muncul karena cuaca yang agak buruk. Tapi saat tim kecil kami dengan keras kepala memutuskan tetap berjalan, menembus hujan, dan berhasil menaklukkan Merbabu, jadilah kami gerombolan basah kuyup yang kegirangan luar biasa. Saat beberapa kawan batal ikut ke Baduy, perjalanan tetap dilakukan dan pertemuan dengan penduduk Baduy yang indah selalu saya kenang dengan bahagia. Saat usia mulai berkepala tiga, perasaan malas sering muncul saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana. Saat ia dikesampingkan, percayalah, hal-hal akan berjalan baik.

Kedua, berangkatlah pagi-pagi saat matahari baru terbit dan ingatlah untuk mandi terlebih dahulu. Saya selalu merasa segar dan memiliki semangat berlipat saat memulai petualangan di pagi buta. Teh hangat di pagi hari di bandara bersama kawan perjalanan selalu memberi semangat yang tak terkira. Bahkan di beberapa road trip, kami mulai berjalan dini hari dan perjalanan selalu menjadi menyenangkan. Pagi-pagi saat matahari malu-malu muncul di timur selalu menjadi salah satu bagian terbaik.

Ketiga, milikilah pakaian perjalanan favorit. Centil ya? Tapi sudahlah, it works for me. Saya mempunyai celana pendek cargo hijau yang mulai dekil yang sangat saya sukai. Mengenakannya di pagi hari, bersama dengan sneakers, sembarang kaos, dan tas punggung selalu membuat saya merasa gagah sekali dan siap dengan petualangan-petualangan tak terbatas. Dan ingat, berangkatlah pagi-pagi. Dan mandi.

Keempat, di hari biasa sempatkanlah untuk mengikuti foto atau kisah perjalanan kawan-kawanmu. Mendengar perjalan-perjalanan Gypsytoes yang menakjubkan, atau melihat salah satu kawan saya, Paul, mencapai puncak Kinabalu dan mengibarkan sang merah putih,  selalu membuat saya bersemangat untuk juga berjalan. Melihat petualangan kawan-kawan dan para pejalan lain selalu membuat saya tersadar betapa di luar sana kejutan seolah tak pernah berhenti.  Puncak gunung, terumbu karang, manusia-manusia ajaib, pentas tari, warung kopi, hutan, dan banyak lagi. Saya jadi bersemangat dan kaki terasa ringan.

Mungkin kita dibesarkan dengan budi pekerti yang begitu halus, sehingga jarang sekali berkata persetan pada kehidupan dan mulai berjalan ke hutan. Mungkin tidaklah salah jika sesekali pada sebuah weekend kita sedikit berbuat dosa, mengambil sedikit tabungan masa depan, mengaku sakit pada atasan saat, dan terus melangkah ke arah matahari terbit. Percayalah, Tuhan maha pemaaf. Kalaupun tidak, liburan akan terlalu menyenangkan sehingga sedikit tambahan dosa rasanya setimpal.  Pada hari selasa pagi, saya akan berjalan pincang ke kantor, bokek, meminta maaf karena baru sembuh dari sakit (tentu dengan beberapa tambahan bumbu) lalu  terduduk di ruang kerja. Di sana saya menghela napas dengan wajah paling puas di dunia lantas bergumam,”It’s all worth it..”

So, next destination?

Twosocks, February 2011

Motion Sickness and Other Truths about Traveling

This is not a cute snapshot of me napping in one of my backpacking adventures.

Instead, it was a photo of me in a complete state of helplessness after being seasick for an hour, crossing a strait in a tiny rickety wooden boat, topped with another hour of being carsick to get to an eatery from the harbor. By the end of those two hours, my hands were cold, my lips were bluish, and my legs have become so weak from crouching in a fetal position that I had no option but to lay myself down the first bench I saw after exiting the cab. As Twosocks mercilessly snapped the shutter, I kept thinking that from then on I need to stop acting crazy and swear off traveling.

Come to think of it, this was not the only time I reprimand myself in such a way. Traveling makes me sick, literally. I had to be content with napping on the beach in Limassol and spraying my throat every 10 minutes while my friends toured Cyprus’ mountainous villages and went wine tasting. I dealt with the panic of having six doctors surrounding me and yelling in Italian when I was sent to an emergency in room in Rome due to a severe allergy reaction (to bedbugs and not fragola, apparently. Thank goodness.). Motion sickness is a leech I cannot shake off: I’ve been sick in the bus, car, boat, ship, bathtub…

Even when you are lucky enough to be free from all the sickness, there is the dealing with extortion bit, like that time when a train conductor in Cefalu tried to fine me and my friends for failing to punch in our ticket before hopping into the train even when he was waiting at the platform next to us before the departure. There is also the part when you are chastised for not speaking the local language, which happened to me in Madrid’s biggest train station and anytime I was in Central Java for more than three days. The worst is perhaps when your stuffs go missing/are stolen, like when I lost over 10,000 rupees for no reason in Bangalore. Hm, maybe not so. The worst is when you had to face humiliation, like being the only one wearing a lifejacket in an open-sea-snorkeling trip in the Gilis – and the only Asian in the boat, too!

Traveling is not glamorous and all fun. It is full of inconveniences. That, my friend, is the truth about traveling.

Now back to that bench. As I braced myself for another taxi ride to the airport, I started to think that I may not be cut out for traveling. On top of everything, I am also accident prone – so much that the following things have fallen on top of my head for no good reason: a cactus, a ceramic tile, and a metal bike handle. Obviously, I don’t handle traveling as well as Twosocks, for instance, who was cheerfully chatting with the cab driver while I was hugging the front seat to redeem my nausea. Should I finally give up on traveling?

Suddenly my ears perked up. The driver was telling us about Gili Nanggu, a tiny less known island on the other side of Lombok with friendly fishes sands so soft it’s like stepping on white flour. Without thinking, I turned to Twosocks and said, “Next destination?”

I was taken aback by my own sudden change of heart. And that’s when it hit me – time heals my traveling pains pretty fast. By the time I am back, I am left with amazing photos, stories, and memories where the annoying parts cease to matter. After some time, the most painful events will be the ones I remember the most and joke about with my friends – like that time when we almost froze in Brussels Zuid’s train station or when we almost died in Lisbon. Traveling has its pains, but perhaps that’s also a reason why I keep doing it: to challenge my own limits. Maybe I am cut out for traveling after all. Maybe it’s not a matter of being lucky enough to escape all the hassles, maybe it’s more about still wanting to run to the next destination even when you were so beaten up by the inconveniences traveling throws your way.

And that my friend, is the truth about travelers.

Jakarta, 7 February 2010

Happy New Year, Dusty readers. I’m back!

Your Gypsytoes